Salah Satu Kegiatan yang dilakukan pada Outing Class, yaitu Praktik Pembentukan Keramik. (Foto: Al Fityan School Tangerang)
Belajar tidak selalu dimulai dengan membuka buku di dalam kelas. Terkadang, pembelajaran justru terasa lebih hidup ketika peserta didik diajak keluar, menyaksikan langsung realitas di sekelilingnya, dan merasakan pengalaman yang tidak bisa didapatkan hanya dari teks. Dari perjalanan, pengamatan, hingga perenungan, setiap langkah dapat menjadi sumber ilmu yang bermakna. Sehingga memang peserta didik perlu untuk merasakan sensasi belajar dengan cara yang berbeda dari biasanya, salah satunya pembelajaran di luar kelas atau biasa disebut dengan outing class.
Perjalanan edukatif menjadi salah satu cara untuk menghadirkan pembelajaran kontekstual yang menyentuh aspek pengetahuan, sikap, dan karakter. Melalui interaksi langsung dengan alam, seni, dan sejarah, peserta didik diajak untuk memahami keterkaitan antara masa lalu dan masa kini, sekaligus menumbuhkan rasa syukur serta kepedulian terhadap lingkungan dan budaya bangsa.
Berangkat dari hal tersebut, SMP Al Fityan School Tangerang mengadakan agenda outing class untuk kelas 7, 8, dan 9 pada hari Kamis, 5 Februari 2026. Tema yang diangkat untuk outing class kali ini adalah “The Harmony of Nature, Arts, and History through Contextual Learning”. Setiap kelas, tujuan atau destinasi yang dituju berbeda-beda. Untuk kelas 7 yaitu Purwakarta, kelas 8 adalah Banten, dan kelas 9 yaitu Cirebon.
Destinasi pertama yang dikunjungi oleh para peserta didik kelas 7 adalah UPTD Pengembangan Sentra Keramik Purwakarta. Di sana, mereka mengikuti rangkaian edukasi keramik yang meliputi pemberian materi, praktik pembentukan keramik, kunjungan ke home industri, serta praktik pewarnaan keramik dengan pilihan karya vas bunga. Kemudian perjalanan dilanjutkan menuju Bale Panyawangan Diorama Purwakarta dan Bale Panyawangan Diorama Nusantara. Di lokasi ini, peserta didik melakukan observasi dan pengamatan sejarah serta budaya Nusantara dengan pendampingan pemandu, sehingga mampu memperluas wawasan kebangsaan dan menumbuhkan rasa cinta tanah air.
Kunjungan terakhir dilaksanakan di Waduk Jatiluhur, dengan rangkaian kegiatannya yaitu pemaparan sejarah, pengerjaan LKS, observasi Istora Lake View, pelatihan dan observasi di Balai Riset Ikan Air Tawar, serta observasi kawasan waduk. Seluruh kegiatan disertai pelaksanaan shalat berjamaah dan doa bersama selama perjalanan sebagai bentuk penguatan karakter islami.
Sedangkan untuk kelas 8, lokasi pertama yang dipilih yaitu Museum Banten Lama. Setibanya di lokasi, peserta didik di pisah menjadi 2 tempat, yaitu Museum Negeri Banten dan Museum Purbakala. Para peserta didik mempelajari sejarah Banten melalui peninggalan arsitektur dan artefak Keraton, serta memahami silsilah Keraton Surosowan sebagai bagian penting dari sejarah bangsa.
Berikutnya perjalanan menuju Butterfly Park dan Jj Pottery. Peserta didik mendapatkan pengalaman praktik membuat gerabah dari tanah liat, membuat diorama metamorfosis kupu-kupu dan mempelajari proses perkembangbiakan kupu-kupu secara langsung. Dan lokasi terakhir yaitu Pantai Anyer. Para siswa menikmati keindahan alam seperti melihat matahari terbenam dan menikmati suasana pantai. Di sini, siswa diajak mentadabburi alam serta memahami bagaimana Allah menciptakan alam dengan sempurna.
Sedangkan untuk kelas 9, para peserta didik berangkat menuju ke destinasi pertama, yaitu Keraton Kasepuhan Cirebon. Siswa mempelajari sejarah penyebaran Islam di Jawa Barat melalui peninggalan arsitektur dan artefak keraton, serta memahami silsilah Kesultanan Cirebon sebagai bagian penting dari sejarah bangsa. Perjalanan dilanjutkan ke pusat Batik Trusmi. Peserta didik mendapatkan pengalaman praktik membatik secara langsung. Selain mengasah keterampilan motorik halus, mereka belajar menghargai filosofi dibalik motif batik serta pentingnya melestarikan warisan budaya lokal.
Kunjungan terakhir dilaksanakan di situs Goa Sunyaragi, sebuah cagar budaya unik yang terbuat dari batuan karang. Di sana, para peserta didik mengamati keunikan arsitektur yang memadukan fungsi sebagai tempat meditasi dan pertahanan. Di sini, siswa diajak mentadabburi alam serta memahami bagaimana manusia di masa lalu berinteraksi dengan lingkungan secara harmonis.
Agenda outing class ini bertujuan untuk memperkaya pengalaman belajar melalui pembelajaran kontekstual yang memadukan unsur alam, seni, dan sejarah dalam bingkai nilai-nilai keislaman. Selain itu juga untuk menumbuhkan kreativitas, ketelitian, dan apresiasi terhadap seni serta industri lokal; memperluas wawasan kebangsaan; serta menumbuhkan rasa cinta tanah air. Kepala SMP Al Fityan School Tangerang, Rahmat, S.Pd., Gr., juga menyampaikan bahwa kegiatan ini bukan sekadar wisata, melainkan laboratorium hidup bagi para peserta didik.
Semoga kegiatan ini membawa keberkahan, manfaat, dan menjadi wasilah bertambahnya ilmu serta keimanan bagi seluruh peserta didik. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

