Jadi Guru itu harus FLEKSIBEL! Why?

1

Jadi Guru itu harus FLEKSIBEL! Why?

Oleh: Carine Verantia, S.Pd. (Wakasek. Kurikulum SMP Al Fityan School Tangerang

 

 

Pembelajaran tatap muka tiba-tiba beralih ke online, sungguh mengejutkan bukan?. Tentu saja, karena saat itu pembelajaran online masih belum terbiasa bagi sebagian besar Guru maupun siswa. Banyak Guru berdalih, memberikan berjuta alasan yang mungkin sebenarnya tidak masuk akal.

“Maaf, saya tidak biasa mengajar online. Saya maunya tatap muka langsung saja. Kalau online, lebih baik saya berikan tugas mandiri saja.” Begitulah kiranya, salah satu alasan guru untuk MENOLAK belajar online.

Alasan lain yang biasa kita dengar yaitu ketika model penulisan RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) harus berubah.

“Duh…Kok model RPP berubah lagi, saya enggak bisa mengikuti format seperti ini. Susah. Saya gunakan format lama saja ya!.”

Tidak hanya itu, keluhan para Guru di masa pembelajaran online sering juga kita dengar, terlebih jika ada pengumuman rapat guru secara tiba-tiba.

“Haduh, kenapa enggak dari tadi diumumkannya, saya kan sudah punya agenda untuk menyelesaikan tugas lain. Maaf saya enggak bisa hadir!.”

***

Rekan-rekan guru, tanpa kita sadari sering sekali kita berkomentar seperti di atas? Kita yang sudah terlalu nyaman dengan kondisi saat ini rasanya sulit sekali mengubah keadaan. Berbagai alasan kita tumpahkan demi mempertahankan keadaan yang sudah dirasa nyaman. Kita enggan untuk beradaptasi dengan hal baru, dan kesal jika ada perubahan. Padahal, bisa jadi perubahan itu berdampak baik untuk diri kita, namun belum dapat kita rasakan saat ini.

Rekan-rekan guru sekalian, kita adalah agen perubahan. Kita menginginkan anak-anak didik kita berubah, dari yang tidak baik akhlaknya menjadi baik akhlaknya. Dari yang tidak tahu apa-apa menjadi banyak tahu. Dari yang tidak bisa menjadi bisa. Bagaimana kita bisa mewujudkan perubahan itu, kalau kita saja anti terhadap perubahan?

Yuk, jadi guru yang fleksibel biar anak didik dan rekan-rekan enggak sebel. Fleksibel bukan berarti tidak berpendirian. Fleksibel bukan berarti tidak berprinsip. Tapi, fleksibel artinya mampu menyesuaikan diri dengan kondisi dan situasi apapun.

Bagaimana caranya menjadi Guru yang FLEKSIBEL? Yuk simak dua poin di bawah ini.

Awali dengan PRASANGKA BAIK

“Kita tidak bisa mengubah orang lain. Namun, kita bisa mengubah cara kita menyikapi orang lain. Kalau tidak bisa mengubah arah angin, ubahlah arah sayap kita.”

-Solikhin Abu Izzudin, penulis buku “Guru Sepanjang Waktu”-

Ketika kondisi tidak bisa kita ubah, maka kita lah yang harus berubah. Ubah cara kita menanganinya. Jangan memaksakan diri untuk berada tetap di zona nyaman kita. Jika kita tetap egois maka mau tidak mau kita harus siap tersingkirkan dan tergantikan dengan mereka yang lebih fleksibel dan mudah menyesuaikan diri.

Alasan kita tetap keukeuh tidak mau berubah salah satunya adalah prasangka buruk. Kita banyak mengira bahwa kondisi dan situasi yang terjadi dibuat sengaja, agar kita tidak nyaman dan untuk mempersulit keadaan kita.

Kita berpikir bahwa pandemi ini adalah konspirasi untuk menghancurkan pendidikan, kemudian kita melawan dengan tidak mengikuti aturan pemerintah dalam menjaga protokol kesehatan.

Yuk ganti pikiran negatif kita dengan sesuatu yang positif. Pasti ada hikmah yang dapat kita rasakan, dan wajib disyukuri ketika perubahan itu hadir.

Ubah mindset kita. Pandemi ini hadir, bisa jadi karena Allah ingin memberikan kesempatan agar sebagai guru, kita dapat lebih meningkatkan kemampuan IT, mempelajari hal-hal baru, dan mencari cara kreatif dalam mengajar secara online.

Berprasangka baik terhadap segala perubahan yang terjadi saat ini, tidak akan menjadi tambahan beban dan memberatkan kita. Sehingga, masalah yang datang akan terasa lebih ringan. Otak kita pun berpikir lebih lancar. Segala proses pun akan dimudahkan. Insya Allah.

Pikirkan Dulu Apa yang Kita Pikirkan

Apakah kata-kata tersebut membingungkan? Bagus. Berarti tulisan saya berhasil membuat otak rekan-rekan guru bekerja.

Poin ini lebih kepada introspeksi dan muhasabah diri. Apa yang membuat keadaan seperti ini, apa yang salah dari cara kita, apa yang kurang dari kita. Mungkinkah kondisi yang tiba-tiba berubah ini adalah imbas dari kesalahan kita di masa lalu?

Kemudian, tanyakan kembali kepada diri kita sendiri atas alasan yang kita buat untuk menolak perubahan itu. Kita tidak ingin mempelajari aplikasi-aplikasi tertentu untuk bisa menyediakan media pembelajaran online yang menarik, hanya karena kita tidak mau pusing belajar. Apakah alasan yang kita buat berdasarkan kepentingan kita sendiri? Untuk kenyamanan kita sendiri?

Terbiasa memikirkan apa yang kita pikirkan, otomatis akan menghasilkan respon positif dari apa yang membuat kita tidak nyaman. Tindakan yang kita lakukan untuk mengatasi segala perubahan dan permasalahan akan lebih dewasa dan matang. Sehingga, tidak ada yang merasa tersakiti, dirugikan, ataupun dipersulit. Ingat, permudah urusan orang lain maka urusanmu juga akan dipermudah. Hati-hati dengan pikiran kita sendiri. Kita harus menyiapkan filter terbaik untuk setiap pemikiran yang hadir di otak kita. Luruskan niat, semangat introspeksi dan perbaikan diri.

Jadi, sebagai guru kita harus siap dengan setiap situasi dan kondisi. Kita harus bisa dengan cepat beradaptasi. Agar mampu menjadi guru yang menginspirasi.

Salam semangat untuk setiap guru di Indonesia! Semoga Allah selalu mempermudah jalan kita semua.

Daftar Pustaka :

Abu Izzudin, Solikhin. 2018. Guru Sepanjang Waktu. Yogyakarta: Pro-U Media.

One Comment

  1. Siti Julaeha

    MasyaAllah sangat setuju Bu Carine..Syukron artikel penyemangatnya, semoga bisa memotivasi rekan Guru yang lain.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *